“kok putusin gue?”

ada yang pernah baca bukunya Ninit Yunita yang kok putusin gue? aku baca buku ini dah dua kali. dan rencananya masih pengen baca lagi.

yang pertama kali aku baca dengan perasaan mendendam. yang kedua sambil bernostalgia. dan yang kali ini rencananya siy mo sambil introspeksi diri.

ada hal yang sempet kejadian, yang bikin aku langsung keinget sama buku ini lagi. aku ga bisa cerita bagaimana sebenernya kejadian itu, soalnya aku mencoba untuk menghormati orang2 yang terlibat didalamnya.

kejadiannya juga ga persis sama dengan semua kejadian yang ada di buku itu. cuma kalo mo ngeliat ke dua taun belakangan, suka ga suka aku jadi keinget sama semua perasaan yang pernah aku rasain dibuku itu.

dan seperti yang ada dibuku itu, aku jadi mempertanyakan? kenapa ya ada orang seegois itu yang dengan mudah meminta semuanya kembali seperti dulu lagi, tanpa mempertimbangkan apa yang mungkin sudah dijalani pihak yang lain? seolah dengan penyesalan dan maaf, semua yang sudah terjadi, bisa dianggap lunas.

bukan masalah apakah masih ada perasaan atau tidak. juga bukan masalah memaafkan atau tidak. sungguh sama sekali bukan itu. tapi ya sekali lagi, bagaimana dengan semua perasaan yang pernah dijalani pada saat kejadian maupun setelahnya? kaya katanya salah satu film, “kalo permasalahan bisa diselesekan dengan kata maaf, bwat apa ada polisi?” ;p

intinya adalah, sebelum meminta, bisakah sebelumnya mempertimbangkan bagaimana perasaan pihak yang diminta itu pada masa2 itu? ini bukan hanya dalam konteks pacaran ya? bisa juga dalam hal persahabatan. misalkan kita habis berantem sama salah satu sahabat kita dan itu ternyata nyakitin sahabat kita banget, sebelum kita meminta persahabatannya lagi, bisakah kita memikirkan bagaimana sakitnya sahabat kita pada saat dan setelah kejadian itu?

pasti jarang ada orang yang berpikir begitu. aku juga termasuk yang hampir ga pernah berpikir seperti itu. tapi setelah kejadian yang kemaren, aku jadi lebih berpikir tentang hal itu.

hmm,,sebetulnya bingung juga siy nyeritainnya kalo ga jelas gini. yah,, mungkin cuma egoku aja yang ingin dihargai. dihargai untuk setiap proses bangkit dari setiap kejatuhanku. karena bukan satu hal yang mudah juga untuk sampe di “tempat ini”.

kadang kita ga pernah tau apa yang dijalani orang lain pada saat kita menyakiti mereka. kita juga ga tau apa yang mungkin sudah rusak pada saat kita membuat satu keputusan tertentu. dan ga semua hal yang sudah rusak bisa diperbaiki seperti sebelumnya. bahkan mobil yang sudah dikenteng pun ga semuanya sempurna. ada beberapa bagian yang pasti meninggalkan bekas2 tertentu. gitu juga dengan satu hubungan. pada saat ada bagian yang rusak, parahnya kita bakal terus hidup berdampingan dengan bekas yang sudah dicetaknya. sekeras apapun kita berusaha, bekas itu bakal terus menempel sebagai bagian yang kita sebut “kenangan”.

selamanya kita ga akan bisa mengubah masa lalu. yang sudah terjadi ya sudahlah. satu2nya yang bisa kita lakukan untuk masa depan, cuma menerima. ikhlas lebih khususnya. tinggal ke masing2 personal aja untuk memilih.

sekarang pertanyaannya adalah: bisakah kita menerimanya?

i still have to learn more about this kind of things. after all, this have to be the last season of the story. i must close the book now. i have enough.

p.s: bwat yang abis putus cinta ato sekedar pengen tau, oke juga nih baca buku “Kok putusin gue?”nya ninit yunita. dilengkapi soundtrack setiap adegan penting, tips2 menanggulangi patah hati sampe strategi perang ala sun tzu hehe,, enjoy!!;p 

p.s2: here’s ninit yunita’s link: http://istribawel.com/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s