warna-warni

 

hmm, moodku dalam 2 jam terakhir ini berganti2 dari mo nulis soal berita di kompas, ganti tentang judgemental, ganti tentang nostalgila dan akhirnya sekarang balik lagi soal berita di kompas. gimana bisa? semua saling berkaitan soalnya,

awalnya pengen bahas soal berita di kompas tentang pembangunan monumen peringatan kaum gay di jerman. trus karena masalah gay ini aku jadi kepikiran tentang persepsi masyarakat, dan hal ini bikin aku jadi inget sama satu lagu yang pernah dinyanyiin ulang sama band favoritku dulu jaman smp, yang judulnya don’t judge this book, tapi aku malah jadi bernostalgila dengan menyetel lagi vcd konser mereka dan ternyata aku kembali tersipu2 kaya anak abg hehe, makanya aku langsung surfing lagi cari2 berita tentang mereka. dan berita tentang salah satu personilnya yang digosipkan gay, bikin aku jadi keinget lagi sama berita di kompas itu.

hmm, bukannya aku setuju atau tidak setuju dengan adanya monumen itu ataupun dengan adanya kaum gay/lesbian.  untuk diriku sendiri aku menegaskan untuk tidak, karena agamaku dengan tegas menyatakan tidak boleh. dan aku sendiri juga sering mendengar tentang kaum nabi nuh, bukannya Allah sudah menunjukkan keputusanNya dengan tegas?

tapi sekali lagi, larangan itu hanya mengikat pada diri pribadiku sendiri, untuk orang lain? go ahead. semua adalah keputusan masing. bukannya setiap orang akan bertanggungjawab pada masa depannya masing2? bukan hanya di dunia, tapi juga di akhirat kelak? seandainya siapapun dia sudah memilih, maka dia harus menerima apapun konsekuensinya kelak.

tapi disini aku bukan mau membicarakan benar atau salah. karena menurutku tidak ada yang benar atau salah, masing2 punya alasan kenapa bisa setuju atau tidak dengan gay/ lesbian. yang aku pikirkan adalah, apa yang mereka rasakan? sering ya aku bertanya2, kenapa ada orang yang menjadi gay? apa alasannya? dan bagaimana perasaan mereka pada saat mereka menyadari kalau mereka adalah gay? bagaimana persepsi masyarakat disekitarnya? bagaimana pendapat keluarganya pada saat mereka mengakui “perbedaan” mereka? dan pada akhirnya aku jadi merasa simpati. karena bukan satu hal yang mudah bukan, untuk menjadi mereka?aku emang ga tau, tapi kurasa hampir sebagian besar orang berharap untuk menjadi normal kan? tapi apa yang terjadi seandainya kita mengalami suatu perubahan orientasi?

dulu satu waktu aku pernah membaca di beberapa tempat bahwa pada masa kecil, mengagumi teman sesama jenis adalah satu hal yang wajar. seperti aku suka melihat temenku yang cantik, pintar ataupun sabar. tapi ya seiring dengan berkembangnya usia, hal itu jadi hal yang biasa, bahkan mungkin berubah menjadi dalam sebagai sayang terhadap saudara. jadi kupikir bukan menjadi satu indikasi berubahnya orientasi. dan di tempa lain kubaca bahwa hal ini bisa berubah dengan jalan menikah. tapi bisakah? sedang beberapa kali kubaca, beberapa tetap menjadi gay meskipun sudah menikah? dan bagaimana dengan yang menjadi gay karena traumatik?

yah aku bukan psikolog dan juga ga pantes untuk menentukan benar atau salah. sekali lagi aku bukannya menyetujui gay, tapi ya aku simpati dengan mereka. mungkin tidak hanya mereka tapi siapa saja. semua berhak untuk hidup sesuai dengan jalan hidup yang dipilihnya. asalkan semua bisa hidup berdampingan dengan damai, bukankah itu jauh lebih baik?

i’m dreaming of a peacefull world, can i have one? 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s