emansipasi
sempet sharing sama salah satu temen dan dilanjutkan dengan sharing lebih jauh dengan teman yang lain (efek ber-YM! ria di malam hari
), dan jadi berpikir,
apa yang terjadi jika ada seorang perempuan yang mengajak seorang laki2 berkenalan lebih dulu?
kalo kita melihat di zaman apa kita hidup dan ditengah serunya isu emansipasi wanita sekarang, seharusnya siy itu adalah satu hal yang biasa saja. sekarangpun aku yakin ada beberapa laki2 yang beranggapan kalo itu adalah hal yang wajar. tapi tetep aja kan, masih ada paling ga 50% laki2 yang menganggap kalo itu (ngajak mereka kenalan lebih dulu) adalah satu hal yang ga wajar, dan bahkan tabu.
aku sendiri sebagai perempuan yang dibesarkan dengan tradisi jawa yang cukup kuat, tanpa sadar jadi membatasi diri juga. dan pada akhirnya berpengaruh pada pola pikirku ini. bahwa ada bagian2 dalam hubungan laki2 – perempuan dimana perempuan bisa ambil inisiatif untuk maju dan ada juga masanya perempuan duduk diam dan menanti.
masalahnya adalah, kalo perempuan ini sudah duduk diam dan menanti, ternyata laki2 itu ga ngeh juga gimana?
nah itu dia repotnya.
tinggal masalah gengsi. apakah perempuan ini mau menundukkan gengsinya sejenak dan bergerak maju dengan harapan laki2 itu tidak berpikir negatif atau mendapat resiko ditolak. atau tetap saja mempertahankan ego dan gengsi untuk kemudian pulang dengan tangan hampa?
itulah emansipasi, satu kata dengan makna yang megah, namun pada aplikasinya tetap saja terbatasi oleh pola pikir masing2 pemerannya.
jadi inget cerita tentang gajah. ini cerita favoritku, yang sering banget aku ceritain kalo lagi inget.
jadi, ada seekor anak gajah yang baru saja ditangkap. kakinya diikatkan ke bilah kayu yang ditanam di tanah. setiap kali anak gajah itu berusaha melarikan diri, kakinya pasti akan selalu tertahan oleh ikatan itu. semakin keras dia berusaha melepaskan diri, semakin keras ikatan itu menahannya dan semakin sakit kaki anak gajah itu jadinya. selama berbulan2 hingga tahun anak gajah itu mencoba. dan semakin lama anak gajah itu semakin kehilangan semangat untuk melepaskan diri. sampai akhirnya dia menjadi gajah dewasa, dan bilah kayu itu semakin lapuk. tapi masih saja dia tidak berani untuk melepaskan diri. karena pikiran bahwa bila dia melarikan diri kakinya akan menjadi sakit masih tertanam dalam pikirannya dan pada akhirnya tersimpan di alam bawah sadarnya.
kadang kita ga sadar bahwa yang membatasi kita adalah rasa takut kita sendiri. dan seringnya perempuan merasa takut akan hal2 yang ga penting. termasuk aku juga. hehe makanya setiap kali aku merasa takut, aku pasti akan selalu teringat cerita ini.
emanipasi mungkin harus dihadapi dengan lebih bijak lagi oleh para perempuan dimanapun dia berada. apapun latar belakangnya. sehingga semuanya tetap pada porsinya. tidak kurang sehingga langkah kita terbatasi, tapi juga tidak berlebih agar nantinya tidak memberikan efek buruk bagi perempuan itu sendiri.
bagaimanapun, bwat semua perempuan meskipun bukan hari kartini atau hari perempuan, tetap semangat!
karena kita bisa melakukan hal – hal yang tidak pernah kita duga sebelumnya
(^ ^)
menjadi bijak
sebelumnya saya mau mengucapkan….
SELAMAT LEBARAN TEMAN – TEMAN!!!!
MINAL AIDZIN WAL FAIDZIN,, MAAFIN SEMUA SALAHKU YAK???
jadi,,
ada satu teori yang aku pernah dengar dan menyatakan bahwa perempuan akan memilih lelaki yang dapat memberikan rasa aman dan kenyamanan. dan orang tua biasanya akan memberikan nasihat pada anak gadisnya seperti ini
” lebih baik kamu yang dicintai daripada kamu yang mencintai nduk. soalnya jatuh ke badannya lebih enak”. bener ga?
dulu pernah ada masanya aku juga menganggap hal ini lebih baik bagi perempuan (untuk memilih lelaki yang mencintainya), dan adalah hal yang mudah untuk mencintai lelaki yang mencintai kita. karena ya,, seperti kata pepatah, witing tresna jalaran saka kulina (dengan logat ngapak banyumasan hehe). jadi cinta bisa tumbuh seiring sejalan dengan perkembangan hubungan.
tapi, saat aku dihadapkan pada hal ini secara langsung, kenapa semuanya jadi tidak segampang teorinya ya? ada perasaan ga rela juga. dan berharap pada satu hal yang sangat tidak pasti.
dan tiba – tiba malam ini jadi merasa tidak puas pada diri sendiri.
aku pusing, bingung, shock, dan pengen kabur lagi.
jadi menyadari kalo ternyata aku tidak sesiap yang kusangka, dan masih belum sedewasa yang kuusahakan.
masih banyak sekali yang harus kupelajari, dan yang paling utama adalah belajar berpikir dan bersikap bijak, pada diri sendiri dan orang2 di sekitarku..