fight!
salah satu temenku ada yang bilang, satu2nya cara supaya kita bisa menghilangkan rasa takut kita adalah dengan menghadapinya secara berulang – ulang. ini dia bilang waktu aku pertama belajar nyetir mobil. waktu itu dia bilang momok bwat orang yang belajar nyetir adalah macet, nanjak dan parkir. dan benar seperti yang bilang, setelah hampir setaun berkutat dengan 3 hal itu, sekarang aku udah ga setakut dulu lagi. tantangan selanjutnya adalah nyetir mobil luar kota.
tapi, bukan itu masalahnya. salah satu momokku yang lain adalah berbicara bahasa inggris. kayanya udah lama banget aku ga ngomong bahasa inggris. dan diujung masa kuliahku ini, kayanya mau ga mau aku harus mulai lagi bicara inggris. berhubung dulu juga ga lancar, tambah sekarang lagi, jadi yang ada adalah aku gugup banget kalo harus ngomong. badan kerasa dingin dan bingung harus ngomong apa? alhasil yang ada isi omonganku adalah kata2 yang cuma diulang2 ga jelas aja hehe,
cuma ya kaya yang temenku bilang, ketakutan itu harus dilawan. bayangkan pada saat nanti bicaraku sudah lebih baik, pasti asik bisa ngobrol dengan orang dari berbagai bangsa
ah dan harus fokus lagi ke TA yang semakin terbengkalai! ;p
fight!fight!!
ending
entah karena timing yang tepat atau emang cuma kebetulan aja, tapi hari ini akhirnya aku keinget lagi sama satu pemikiran ini.
pernah denger lagunya My Chemical Romance yang i don’t love you? salah satu frasenya ada yang isinya gini,
” when you’re gone
would you have the guts to say..
i don’t love you…
like i did yesterday “
kira2 setaunan kemaren sempet terpikir, kenapa ya orang harus mencari alasan untuk putus? kebanyakan ambil alasan karena udah ga cocok lagi ato karena adanya perbedaan. kalo memang gitu, bukannya itu sudah satu hal yang pasti ya? karena dua orang yang tumbuh besar di dua lingkungan keluarga yang beda pasti pada akhirnya akan menjadikan dua pola pikir yang berbeda. yang menjadi pertanyaanku adalah, kenapa pada saat hubungan itu masih hangat2nya, perbedaan dan ketidakcocokan itu menjadi satu hal yang tidak terlalu dipermasalahkan?
aku jadi inget kata2 salah satu temen cowoku yang waktu itu mulai ada masalah sama cewenya. waktu itu dia mempertanyakan apa yang kira2 ada dipikiran cewenya, karena tiba2 cewenya jadi menjauh tanpa ada kejelasan. dan dia bilang, seharusnya cewenya sadar, kalo mereka telah berkomitmen untuk tidak putus hanya karena adanya alasan ketidakcocokan, karena perbedaan itu pasti ada dan telah disadari sejak awal. selanjutnya jujur aku ga tau apa alasan tepat cewenya, cuma yang pasti mereka akhirnya emang putus juga.
dan masih banyak lagi hal yang dijadikan sebagai alasan untuk meminta pisah dari pasangan. alasan paling susah kuterima adalah alasan untuk lebih fokus dengan sekolah. alasannya siy bener, cuma kayanya aplikasi di lapangan ko, beberapa yang bilang begitu ga lama kemudian malah jadian juga sama orang lain. jadi muncul satu pertanyaan baru kan? jadi sebetulnya hubungannya yang mengganggu konsentrasi atau sebetulnya pasangannya yang mengganggu konsentrasi?
balik lagi ke lagunya MCR tadi, aku sempet kepikiran, sebetulnya alasan paling mendasar dibalik semua alasan2 sepele itu adalah bahwa sebetulnya perasaan kita terhadap pasangan kita sudah seleseai, atau seperti kata liriknya, kita tidak mencintai mereka seperti sebelumnya. sesederhana itu. tapi kenapa kita tidak bisa bicara sesederhana itu? i wonder…
dulu kupikir akan jauh lebih baik seandainya aku diberitahu kalo perasaannya sudah selesai ke aku. jadi paling ga meskipun sakit aku sudah tidak bergantung pada harapan kosong lagi. dan tidak akan sekecewa itu kalo seandainya aku denger kalo dia jadian lagi dengan orang lain.
tapi setelah kupikir2 mungkin orang memakai alasan2 klise adalah untuk menjaga perasaan pasangan yang ditinggalkannya. dan aku berpikir kalo seandainya aku bener2 diputuskan dengan alasan bahwa perasaannya sudah tidak seperti sebelumnya, kira2 apa ya reaksiku? apakah aku bisa menerimanya?
orang sering bilang, jauh lebih baik mendengar kejujuran meskipun sakit, daripada dibohongi. tapi ya kaya kakaku bilang, bukan satu hal yang mudah juga untuk pihak yang memutuskan. masing2 pasti akan merasa sakit dengan adanya perpisahan. apalagi kalo hubungan itu sudah melewati waktu yang tidak sebentar dan cerita yang panjang. tinggal bagaimana kita memanage perpisahan itu sendiri. kadang suka sedih ya kalo memikirkan pasangan2 yang berpisah dengan cara yang menyakitkan, padahal hubungan itu pasti diawali dengan cara yang baik.
mungkin setiap pasangan harus memiliki kesepakatan jangka panjang, just in case, seandainya semuanya tidak seperti yang diharapkan, maka bagaimana caranya menyelesaikan semua urusan yang ada dengan baik dan penuh kesadaran akan konsekuensi yang mungkin terjadi. sehingga semua hal yang terjadi tidak harus diakhiri dengan cara yang tidak menyenangkan.
mau jujur atau beralasan? it’s always up to you
this 23rd
akhir2 ini ada satu kebiasaan baru yang lagi kuasah bener, dan membiasakannya. yaitu kebiasaan menganalisa apa keuntungan dari setiap tindakan dan kejadian yang aku lakukan. 2 kejadian yang paling aku inget saking ga pentingnya ngasih aku dua kesimpulan yang bikin aku mikir hal itu ga sia2. yang kesimpulan dari kejadian pertama adalah puas, karena sebetulnya aku buang2 waktu dengan melakukan hal itu. tapi setelah terjadi aku merasa puas dan akhirnya bisa mengikhlaskan kejadian yang selama ini bikin aku merasa trauma dan selalu terpaku dengan masa lalu.
dan kejadian yang paling akhir, terjadi hanya beberapa menit yang lalu, waktu aku curhat soal patah hatiku (AGAIN!!) ke sahabatku tersayang. ‘n guess what?? reaksi dia yang pertama adalah: KETAWA NGAKAK!!? asli deh emang ga ada perasaannya orang satu itu *geleng2 kepala*. emang persahabatan kami termasuk yang paling ga sehat yang aku punya. dan dengan prinsip “berbahagia diatas penderitaan sahabat sendiri” itu emang reaksi paling wajar yang akan dihasilkan.
tapi, hehe anehnya, reaksinya malah bikin aku merasa baik2 aja. emang aku paling ga suka dikasihani, dan sometimes tantangan malah bikin semangatku jadi muncul lagi. dan yah, kurasa sahabatku itu dibalik kegilaannya juga ada sisi bijaknya, mungkin kalo aku dah kaya orang frustasi berat,yang ada kecenderungan bunuh diri, mungkin dia bakal memberi satu simpati. iya ga met??*curiga*
yah paling ga kesedihanku ini lumayan bisa bwat seseorang senang, ga sia2 amat kan? ;p dan mungkin sudah saatnya aku melepaskan kali ya. sudah cukup ko, mungkin emang butuh waktu 2 tahun bwat menyadari kalo emang semua ga bisa berjalan seperti yang kuharapkan. cukup sampai disini.. (kaya lagunya sapa ya??*mikir2*).
setiap orang berhak untuk maju terus melangkah, tanpa harus terus terpaku dengan masa lalu,,
mungkin cuma aku yang kadang masih berharap kalo semua belum berubah. tapi ternyata waktu emang sudah berjalan. mungkin aku yang harus mawas diri.
well anyway,,
Happy Birthday for me,,
semoga taun depan aku bisa jadi seseorang yang lebih maju lagi, dengan masih menjejakkan kakiku di bumi..
wish u all d’bezt for the next 1 year!!
may Allah alwayz be with us,,
(^ ^)
